Gratis berlangganan artikel info-bengkulu via mail, join sekarang!
Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Kota Bengkulu Photo Bengkulu Sejarah Bengkulu Nama Bengkulu Sejarah Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu

Thursday | 2:22 PM | 0 Comments

Sejarah Nama Bengkulu | Provinsi Bengkulu

Asal Nama Bengkulu
Bemacam-macam versi yang dapat kita temukan mengenai asal muasal nama Bengkulu. Ada yang mengambil dari cerita dan legenda, dan adapula yang mengambilnya lewat kronologis waktu.


BANGKAHULU.

Konon orang yang pertama-tama menghuni Bengkulu ialah Nantu Kesumo dan kawan-kawannya. Ia datang dari Demak di pulau Jawa. Ia memasuki daerah Bengkulu lewat pantai (pasar Bengkulu sekarang). Di tanah yang baru ini, Nantu Kesumo dan kawan-kawannya menghadapi tantangan yang sangat berat. Tanah Bengkulu masih merupakan hutan belantara. Binatang-binatang buas dan liar masih hidup dengan bebas namun Nantu Kesumo mempunyai kesaktian dan ilmu yang tinggi. Ia tidak takut pada binatang-binatang buas itu.

Konon pada waktu Nantu Kesumo dan kawan-kawannya sedang membuka hutan untuk membangun kampung, mereka bertemu dengan ular yang sangat besar. Ular itu dapat mereka bunuh. Badan ular yang panjang itu dipotong menjaditiga bagian sama panjang. Ketiga bagian tubuh ular itu masing-masing menjelma menjadi meriam sapu ranjau, tombak bejabai, dan tabu berantai. Untuk memperingati kisah ini, tiap-tiap mengadakan pesta perkawinan dengan memotong kerbau mesti ada tombak berambu payung kering.

Kampung yang dibangun pertama kali itu bernama Tanah Tinggi. Suatu hari penduduk kampung Tanah Tinggi itu melihat batang bangka hanyut ke hulu. Batang bangka itu sebangsa pohon pinang. Pohon bangka itu sangat aneh, bentuknya melingkar lingkar, mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Keanehan pohon ini mengundang penduduk Tanah Tinggi untuk menyaksikannya.

Dari kejadian inilah penduduk Tanah Tinggi menamakan tanah kediaman mereka dengan Bangka Hulu, yang berasal dari kata bangka (pinang) dan hulu (ulu sungai). Sejak saat itulah nama Bengkulu dipakai orang.
Alkisah diceritakan bahwa Nantu Kesumo datang ke Bengkulu dalam keadaan bujangan. Ia datang bersama saudaranya bernama Kayu Mentiring. Kepada saudaranya inilah dia meminta nasehat dan pertimbangan. Sebagai manusia biasa yang normal, Nantu Kesumo tidak tahan hidup membujang terus.

Akan tetapi dia tidak mau kawin dengan wanita biasa. Wanita yang menjadi idamannya adalah Ratu Aceh. Kecantikan Ratu Aceh sudah terkenal ke mana-mana, karena itulah Nantu Kesumo bermaksud menjadikannya sebagai istri. Ia akan pergi ke Negeri Aceh untuk melamar.
Sebelum berangkat ke negeri Aceh ia mengutarakan niatnya itu kepada Kayu Mentiring, "Saudaraku Kayu Mentiring, saya berniat pergi ke negeri Aceh, dengan maksud untuk melamar Ratu Aceh. Doakanlah agar maksud saya berhasil", kata Nantu Kesumo.

"Ingat Nantu Kesumo anatara kita dan negeri Aceh selalu bermusuhan, lamaranmu mustahil diterima", kata Kayu Mentiring. Niat Nantu Kesumo untuk memperistri Ratu Aceh sudah nekat, oleh karena itu saudaranya terpaksa menyetujui seraya katanya, "Kalau demikian maumu, saya akan membantumu. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama". Alkisah, berangkatlah Nantu Kesumo seorang diri dengan perahu yang bernama Rejung Kelam.

Setelah kurang lebih sebulan berlayar sampailah ia ke tepi pantai tempat pemandian Raja Aceh. tempat ini selalu dijaga oleh hulubalang Raja, dengan senjata meriam yang diarahkan ke laut untuk menembak musuh.
Perahu Nantu Kesumo dapat dilihat oleh Hulubalang Raja, penjaga pemandian. Mereka menembakkan meriam kearah perahu Nantu Kesumo. Tak satupun peluru meriam mengenai Nantu Kesumo. Ia tidak tembus oleh peluru. Penjaga pemandian lari ketakutan. Nantu Kesumo pun mendarat dan masuk ke negeri Kerajaan Aceh.

Alkisah pada waktu itu kerajaan Aceh sedang merayakan pertunangan Ratu Aceh. Salah satu acaranya adalah mengadakan gelanggang pertaruhan selama tiga bulan. Barang siapa yang akan mengikuti pertaruhan harus minta izin kepada kakak Putri Aceh bernama Raden Cili. Sesudah mendapat izin, calon peserta harus menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Satu peti berbentuk panjang, satu lagi berbentuk pendek. Nantu Kesumo menggunakan kesempatan ini untuk bertemu muka dengan idaman hatinya Ratu Aceh.

Ia izinkan mengikuti pertaruhan. Ia pun menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Pasa saat itulah ia bertemu muka dengan Putri Aceh, untuk pertama kalinya yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Hubungan cinta ini tidak disetujui Raden Cili.
Nantu Kesumopun masuk ke gelanggang pertaruhan. Ia mengikuti pertaruhan permainan Gelincing Jae, yaitu sebuah permainan yang mempergunakan uang sen sebanyak dua keping yang diempaskan diatas batu. dalam permainan ini Nantu Kesumo kalah meraub, menang meraub.

Terjadilah keributan di tengah gelanggang. Permainan Gemincing Jae dihentikan, digantikan dengan pertaruhan menyabung ayam. Ayam Nantu Kesumo selalu menang, tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. Hal ini dilaporkan panitia pertaruhan ke Raden Cili. Ia memerintahkan prajurit kerajaan menangkap Nantu Kesumo. Hal ini diketahui oleh Nantu Kesumo, iapun membuat keributan dengan memukul canang dari tempurung. Bunyi tempurung itu sebagai tanda naiknya harga beras. Tanda ini menimbulkan kemarahan kepada peserta pertaruhan yang kalah. Jumlah yang kalah sangat besar. Terjadilah keributan besar yang hebat. Banyak korban berjatuhan.

Sementara itu keributan di Aceh berlangsung terus, Nantu Kesumo terluka di lambung tunggai, dan luka luka di ujung kuku (mungkin maksudnya tidak seberapa). Raden Cili dan pasukan tentaranya tidak dapat menangkap Nantu Kesumo.
Raden Cili dan tentaranya berusaha menghentikan keributan dan kekacauan itu. Dalam keadaan kacau itu Nantu Kesumo memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk menenui Ratu Aceh untuk membawanya lari ke Bengkulu.

Dibawalah Ratu Aceh ke luar istana kerajaan. Pada malam harinya mereka menuju pantai untuk selanjutnya berlayar menuju Bengkulu. Perahu yang digunakan adalah tetap perahu Rejung Kelam. Kedua insan itu pura pura gembira dan bahagia. Nantu Kesumo gembira karena maksudnya tercapai, membawa pulang Ratu Aceh. Sedang Ratu Aceh gembira karena ia dapat bebas dari kungkungan adat kerajaan, bebas menikmati keindahan alam.
Setelah kurang lebih satu bulan berlayar sampailah mereka ke tanah harapan yaitu Bengkulu. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan oleh saudaranya Kayu Mentiring dan semua penduduk di desanya. Upacara pernikahanpun diadakan dengan sederhana.

Sementara itu di Negeri Aceh setelah keributan dan kekacauan dapat diatasi, Raja marah kepada Raden Cili dan semua pasukannya. Raja memerintahkan kepada Raden Cili memimpin pasukan untuk menyerang Bengkulu dan mengambil Ratu Aceh. Pasukan disiapkan dengan perlengkapan dan persenjataan yang cukup dan lengkap, serta persediaan makanan yang banyak.
Nantu Kesumo sudah menduga bahwa Raja Aceh pasti akan menyusul putrinya. Karena itu sebelum mereka datang ke Bengkulu, ia dan saudaranya Kayu Mentiring memerintahkan kepada semua penduduk untuk siap-siaga menghadapi segala kemungkinan akibat serangan pasukan Raja Aceh. Benteng-benteng dibangun dan persenjataan dilengkapi, persediaan makananpun diperbanyak.

Alkisah maka datanglah pasukan Raja Aceh yang dipimpin oleh Raden Cili sendiri. Pertempuran pun terjadi antara kedua pasukan itu. Tempat terjadinya pertempuran di suatu tempat yang sekarang bernama Bukit Aceh, terletak di bagian utara kotamadya Bengkulu.
Pasukan Aceh banyak yang tewas dalam pertempuran. Mayat-mayatnya tidak sempat dikuburkan, hingga menimbulkan bau yang sangat busuk. Pasukan Nantu Kesumo tidak tahan jika terus-menerus tercium bau yang sangat busuk itu. Merekapun minta ke Nantu Kesumo untuk menjauhi tempat itu. Nantu Kesumo menyetujui dan tempat yang dipilih adalah Gunung Bungkuk. Menurut cerita orang di Gunung Bungkuk masih terdapat perahu Rejung Kelam yang sudah membatu.

Tidak lama setelah pindah sementara ke Gunung Bungkuk, Kayu Mentiring meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak yang bernama Bintang Roano, konon menurut cerita Bintang Roano meninggal di Bengkulu dan jenazahnya dimakamkan di daerah yang sekarang bernama Pasar Anggut. Sedangkan Nantu Kesumo sempat kembali lagi ke tempat semula, yaitu Bengkulu, setelah bau mayat hilang. Nantu Kesumo dan Ratu Aceh hidup rukun dan bahagia, tetapi sayang tidak mempunyai anak.

Diceritakan kembali Oleh Tun Jang di dalam artikelnya Asal Usul Nama Bengkulu
Source: Data proyek pencatatan kebudayaan daerah 1980
Lanjut membaca “Sejarah Nama Bengkulu | Provinsi Bengkulu”  »»

Saturday | 8:49 PM | 0 Comments

Bengkulu Cocok untuk Koro Pedang

BENGKULU, KOMPAS.com - Bengkulu berpotensi bagi usaha budi daya tanaman koro pedang karena terdapat cuaca dan iklim ketinggiannya hingga 2.500 meter dari permukaan laut dengan suhu 26,3 derajat Celcius.
    
Usaha budi daya koro pedang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerah, dalam tiga bulan usia tanam sudah dapat dipanen, kata petani koro pedang di Bengkulu, Darmadi, Rabu (28/7/2010).
    
Iklim dan cuaca di daerah ini berpotensi untuk digalakkan tanaman tersebut karena dapat hidup di ketinggian itu.
    
Bengkulu telah terdapat tanaman tersebut dalam kondisi bagus pertumbuhannya, tetapi tanaman jenis kacang itu belum dilirik oleh petani di daerah ini.
    
Menurut dia, koro pedang dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah. Masa panen koro pedang tergantung pada daerah penanaman.
    
Jika ditanam di daerah persawahan atau dataran rendah, katanya, masa panen membutuhkan waktu empat bulan, jika ditanam di daerah dataran tinggi sekitar enam bulan baru bisa dipanen. "Kami baru menanam percobaan di lahan kebun seluas satu hektare, yang terletak di Desa Simpang Batu Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu," katanya.
    
Tanaman di atas lahan seluas satu Ha itu hanya membutuhkan bibit sebanyak 30 kilogram, sementara harga bibit per kilogram Rp 30 ribu sedangkan harga jual biji mencapai dua ribu rupiah. Selama empat bulan sudah menghasilkan buah hingga tiga ton dalam satu kali panen,
    
Selain didukung iklim, daerah ini mempunya humus tanah masih tinggi dan tanaman koro pedang akan optimal bila mendapatkan sinar matahari penuh, namun pada kondisi ternaungi masih mampu menghasilkan biji yang baik.
    
Hasil panen perdana sebanyak tiga ton itu akan dikembangkan kepada petani sebanyak 75 orang dengan lahan seluas 1.500 Ha. Lahan tersebut milik petani di daerah itu.
    
Dia mengatakan, tanaman jenis itu akan mengangkat taraf hidup masyarakat di daerah itu sebab hasil produksi dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kedelai merupakan solusi menuju kemandirian protein nabati nasional yang sampai saat ini bahan bakunya masih impor.
    
Tentunya, kebutuhan terhadap buah koro pedang semakin meningkat di Tanah Air sebab kebutuhan terhadap komoditas tersebut dapat dijadikan alternatif lain pengganti kacang kedelai.
Lanjut membaca “Bengkulu Cocok untuk Koro Pedang”  »»

Benda Zaman Perunggu di Museum Bengkulu

BENGKULU, KOMPAS.com--Museum Negeri Bengkulu menyimpan benda zaman perunggu berupa Nekara dan Guci China pada abad keempat dan sembilan, kata Kepala Seksi Koleksi dan Paripasi Museum Negeri Bengkulu Muhardi, Selasa."Benda bersejarah itu berasal dari zaman perunggu dan telah dikoleksi oleh Museum Negeri Provinsi Bengkulu sejak beberapa tahun lalu," katanya.
Ia mengatakan, benda zaman perunggu pada abad keempat yang menjadi koleksi Museum di Bengkulu antara lainnya adalah Nekara, dan abad ke sembilan benda berupa Guci China.
Nekara adalah benda yang terbuat dari bahan perunggu yaitu timah campuran tembaga, benda tersebut dibuat pada zaman perunggu.
Benda tersebut pada zamannya berpungsi sebagai genderang perang dan dapat juga digunakan untuk perlengkapan upacara.
Berumbung atau Nekara ditemukan masyarakat Desa Bumi Sari Kabupaten Rejang Lebong dan telah diserahkan untuk koleksi museum sebagai benda bersejarah.
Ia mengatakan kondisi benda peninggalan bersejarah itu saat ini dalam baik dan aman tersimpan di ruang pameran gedung museum Bengkulu.
Tidak semua benda yang ada di museum ini ditempatkan dalam ruangan pameran, hal itu untuk menjaga agar tidak rusak dan hilang, karena benda koleksi itu tidak hanya mempunya nilai sejarah saja sehigga benda tersebut dirahasiakan, katanya.
Dari sembilan jenis benda bersejarah di museum ini banyak benda berasal dari zaman purba yaitu benda koleksi filologika dan arkeologika.
Untuk menjaga kelestarian benda tersebut, pihak Museum akan menyimpan dan merawat sesuai tempat.
Benda tersebut bagian dari koleksi bersejarah lainnya, Museum negeri bengkulu menyimpan benda warisan budaya dan alam di proninsi Bengkulu sebanyak 6.070 situs, yang telah diteliti dan dirawat sebagai benda koleksi.
Lanjut membaca “Benda Zaman Perunggu di Museum Bengkulu”  »»

Enam Situs Budaya Bengkulu Telantar

BENGKULU, KOMPAS.com--Enam situs budaya di Kabupaten Bengkulu Selatan tidak tergarap akibat minimnya dana pendukung dari pemerintah daerah, sehingga seluruhnya terlantar.
Keenam situs bersejarah itu adalah Sebakas Dusun Tinggi Kecamatan Air Nipis, Raja Khalifa, Puyang Palak Bedah, Kudau Merpalau, Raden Sanaka dan Raden Kuning Kecamatan Kota Manna, kata Kepala Dinas Pariwisata, Budaya dan Perhubungan (Budparhub) Kabupaten Bengkulu Selatan Fauzi, Rabu.
Akibat situs peninggalan sejarah itu tidak tergarap kondisinya sekarang cukup memprihatinkan dan dimakan usia dan ada juga bagian bangunan kunonya yang rusak.
Kondisi ini disebabkan keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah daerah, sehingga empat tahun terakhir terus diusulkan belum juga menjadi prioritas.
Usulan renovasi situs itu selalu disampaikan pada pemerintah daerah, namun saat pembahasan KUA/PPAS ditingkat Banggar selalu dicoret, dengan alasan tidak ada dana.
Ia menjelaskan, konon katanya enam legenda itu memiliki sejarah dan arti bagi laju dan perkembangan daerah Bengkulu Selatan yang sebelumnya mencakup Seluma dan Kaur.
Legenda itu, katanya, menceritakan tentang kejadian dimasa lampau sehingga menjadi referensi bagi masyarakat dan siswa sebuah mata pelajaran di sekolah.
Sebelumnya masih ada buku khusus sejarah yang menceritakan tentang latar belakang keenam situs tersebut, tetapi hingga sekarang buku itu tidak diketahui lagi keberadaannya, sulit ditelusuri karena sebagian juru kuncinya sudah meninggal dunia.
Sementara itu, Ketua Bagian anggaran (Banggar) DPRD Bengkulu Selatan Susman Hadi membenarkan usulan penggarapan legenda pada SKPD Disbudparhub belum masuk nominasi prioritas.
Kondisi itu disebabkan terbatasnya anggaran dana, sedangkan kebutuhan yang lebih mendesak cukup banyak, terutama dalam mensejahterakan masyarakat di berbagai sektor.
Sektor menjadi prioritas antara lain sarana prasarana pertanian dan perkebunan sebagai mata pencaharian masyarakat melalui pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi pertanian.
Bila sarana jaringan irigasi sudah mantap warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani akan lebih nyaman dalam menggarap lahan sawahnya.
Untuk situs budaya dan pelestarian sejarah memang penting, agar mengingatkan generasi muda tidak lupa akan jati dirinya, apalagi didalamnya terkandung nilai pembelajaran hidup yang masih relevan hingga sekarang, tetapi memang dananya sangat minim. "Mudah-mudahan usulan tersebut bisa direalisasikan pada anggaran tahun depan," ujar Susman.
Lanjut membaca “Enam Situs Budaya Bengkulu Telantar”  »»

Related Posts with Thumbnails
 

Like Seputar Info Bengkulu in Facebook

Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Zoomtemplate.com | Published by Info-Bengkulu
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.